ff
 
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat riau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010


Yong Dolah dari Bengkalis

Dalam cerita lisan masyarakat Melayu, terutama Bengkalis, sosok Yong Dolah selalu divisualisasikan kepada sosok pembual yang suka bercerita, tapi yang diceritakan adalah kosong belaka.

Bukan hanya bagi orang awam, akan tetapi juga sebagian intelektual yang memiliki pandangan yang sama terhadap sosok Yong Dolah. Bila hal ini terjadi, maka ada beberapa faktor kesalahan, yaitu: Pertama, bahasa yang digunakan Yong Dolah memiliki nilai filosofis yang tinggi sehingga sampai saat ini pun masih sulit dicerna dan dipahami maksudnya oleh banyak kalangan.

Akibatnya, kita masih belum mampu menterjemahkan dan memahami maksud Yong Dolah secara substansial. Hal ini berarti, intelektualitas dan kebijaksanaan Yong Dolah sangat tinggi untuk zamannya, bahkan mungkin saat ini dan perlu kajian secara mendalam.

Kedua, informasi tentang cerita Yong Dolah tidak mampu ditrasformasikan pada generasi saat ini karena tidak adanya upaya dari pemerintah daerah untuk mempublikasikan cerita filosofis Yong Dolah. Sebab, paradigma saat ini hanya lebih didominasi oleh faham materialistik (pembangunan benda nampak) dan hedonism (kenikmatan sesaat).

Sementara untuk mempublikasikan cerita Yong Dolah ditolak oleh kedua mazhab tersebut. Ketiga, kita sebenarnya adalah orang yang belum tercerahkan, sebab kehidupan selalu mentertawakan orang, padahal tanpa kita ketahui kita justru sedang menertawakan diri sendiri, bukan mentertawakan cerita Yong Dolah. Hal ini disebabkan karena kita tak mampu memahami apatahlagi membuat melebihi apa yang dilakukan oleh orang yang kita tertawakan.

Akibat kesalahan di atas, maka eksistensi Yong Dolah dengan cerita filosofisnya yang demikian tinggi menjadi hilang. Yang muncul hanya pelecehan terhadap buah intelektual zaman yang memiliki nilai demikian tinggi tersebut. Jika Minangkabau memiliki filosofi bak “menanam karambi condong,” memiliki makna yang luas.

Antara lain, mungkin kita lahir di sebuah negeri, tapi justru dihargai bukan di negeri kita lahir, tapi harum di negeri orang. Namun, anehnya tidak demikian dengan Yong Dolah. Ia tidak harum di luar daerahnya sendiri, bahkan anehnya, di tempat Yong Dolah pernah hidup pun ia tidak mendapat penghormatan yang layak sebagai sosok sastrawan yang memiliki intelektualitas tinggi.

Jika Soeman Hs termasuk sosok intelektual sastra yang mengekspresikan kecerdasannya melalui tulisan, namanya harum dan bahkan diabadikan sebagai nama perpustakaan daerah. Namu, meskipun sudah diabadikan menjadi nama perpustakaan daerah yang menjadi kebanggaan bumi Melayu, akan tetapi karya Soeman HS sendiri masih sangat sulit ditemukan sehingga tidak bisa dibaca oleh generasi saat ini.

Jika tidak percaya, cobalah tanyakan pada generasi saat ini, sejak SD sampai PT apakah mereka pernah tahu dan membaca karya sastrawan Melayu yang besar tersebut? Mungkin sebagian besar tidak pernah menyantap karyanya dan hanya tahu nama Soeman Hs karena menjadi nama perpusatakaan daerah saja. Alangkan menyedihkan...

Sementara Yong Dolah, adalah sosok intelektual yang mengekspresikan kecerdasannya melalui oral (lisan) yang hanya menjadi cerita yang mengandung cemoohan. Padahal, cara Yong Dolah mengekspresikan sastranya merupakan cara dan bentuk media yang ampuh untuk zamannya.

Sangat banyak intelektual yang menggunakan cara oral dalam mencurahkan kecerdasannya saat itu. Katakanlah seperti Wak Setah, seorang perempuan Melayu yang memiliki kemampuan bertutur (bercerita) yang sangat brilian.

Sayangnya, penuturan cerita yang pernah disampaikannya tak pernah dibukukan, sehingga sulit ditemukan lagi. Padahal, mayarakat Melayu modern telah banyak yang tidak lagi mengetahui cerita daerahnya akibat arus novel modern yang tidak mencerminkan nilai Melayu yang islami.

Padahal, apalah sulitnya bagi negeri Lancang Kuning yang kaya ini untuk mengumpulkan cerita Yong Dolah dan Wak Setah untuk kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku agar bisa menjadi bacaan generasi saat ini dan akan datang.

Bukankah Bumi Lancang Kuning telah memproklamirkan diri sebagai Pusat Budaya Melayu Asia Tenggara? Bagaimana mungkin visi ini terwujud tatkala secara intern generasi negeri ini kurang untuk tidak sama sekali memahami budayanya dan kekuarangan bacaan para intelektual budaya Melayu yang pernah ada dahulu dengan kekuatan nilai religious budaya Melayu yang demikian dalam. Padahal, karya mereka memiliki keluasan makna dan dalam filosofis religiusnya.

Yong Dolah paling tidak merupakan sosok intelektual sastrawan Melayu yang pernah lahir di Bumi Lancang Kuning ini yang mengekspresikan kecerdasannya dalam bingkai sastra yang menggunakan kata hiperbola yang penuh makna.

Paling tidak, sampai saat ini belum ada yang mampu melakukan bentuk sastra hiperbola sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yong Dolah. Entahlah... Apakah masih bisa kita tertawa juga lagi ketika mendengar cerita Yong Dolah. Jika masih bisa, syukurlah. Tapi tertawa karena keasyikan menikmati kedalaman intelektualitasnya dan kepiawaiannya memainkan kata, bukan mengejeknya.

Sekali lagi, entahlah... Tapi, Yong Dolah boleh berbangga hati karena kata filosofisnya bisa membuat kita tertawa dan Wak Setah melalui celotehnya membuat ia menjadi sosok perempuan Melayu yang diperbincangkan oleh Pusdatin Puanri.

Beruntunglah Wak Setah karena Pusdatin Puanri masih memperjuangkannya, tapi tidak demikian dengan Yong Dolah yang tak ada mau memperjuangkan intelektualitasnya. Sementara masih banyak para pembual dan pencoleteh lainnya yang lahir hari ini justeru hanya mampu membuat kita menjadi geram.
bAca sElenGkapNyA!!

Makanan dari Sagu (Mie sagu dan Sepolet/Kepurun)


Yong Dolah dari Bengkalis

Dalam cerita lisan masyarakat Melayu, terutama Bengkalis, sosok Yong Dolah selalu divisualisasikan kepada sosok pembual yang suka bercerita, tapi yang diceritakan adalah kosong belaka.

Bukan hanya bagi orang awam, akan tetapi juga sebagian intelektual yang memiliki pandangan yang sama terhadap sosok Yong Dolah. Bila hal ini terjadi, maka ada beberapa faktor kesalahan, yaitu: Pertama, bahasa yang digunakan Yong Dolah memiliki nilai filosofis yang tinggi sehingga sampai saat ini pun masih sulit dicerna dan dipahami maksudnya oleh banyak kalangan.

Akibatnya, kita masih belum mampu menterjemahkan dan memahami maksud Yong Dolah secara substansial. Hal ini berarti, intelektualitas dan kebijaksanaan Yong Dolah sangat tinggi untuk zamannya, bahkan mungkin saat ini dan perlu kajian secara mendalam.

Kedua, informasi tentang cerita Yong Dolah tidak mampu ditrasformasikan pada generasi saat ini karena tidak adanya upaya dari pemerintah daerah untuk mempublikasikan cerita filosofis Yong Dolah. Sebab, paradigma saat ini hanya lebih didominasi oleh faham materialistik (pembangunan benda nampak) dan hedonism (kenikmatan sesaat).

Sementara untuk mempublikasikan cerita Yong Dolah ditolak oleh kedua mazhab tersebut. Ketiga, kita sebenarnya adalah orang yang belum tercerahkan, sebab kehidupan selalu mentertawakan orang, padahal tanpa kita ketahui kita justru sedang menertawakan diri sendiri, bukan mentertawakan cerita Yong Dolah. Hal ini disebabkan karena kita tak mampu memahami apatahlagi membuat melebihi apa yang dilakukan oleh orang yang kita tertawakan.

Akibat kesalahan di atas, maka eksistensi Yong Dolah dengan cerita filosofisnya yang demikian tinggi menjadi hilang. Yang muncul hanya pelecehan terhadap buah intelektual zaman yang memiliki nilai demikian tinggi tersebut. Jika Minangkabau memiliki filosofi bak “menanam karambi condong,” memiliki makna yang luas.

Antara lain, mungkin kita lahir di sebuah negeri, tapi justru dihargai bukan di negeri kita lahir, tapi harum di negeri orang. Namun, anehnya tidak demikian dengan Yong Dolah. Ia tidak harum di luar daerahnya sendiri, bahkan anehnya, di tempat Yong Dolah pernah hidup pun ia tidak mendapat penghormatan yang layak sebagai sosok sastrawan yang memiliki intelektualitas tinggi.

Jika Soeman Hs termasuk sosok intelektual sastra yang mengekspresikan kecerdasannya melalui tulisan, namanya harum dan bahkan diabadikan sebagai nama perpustakaan daerah. Namu, meskipun sudah diabadikan menjadi nama perpustakaan daerah yang menjadi kebanggaan bumi Melayu, akan tetapi karya Soeman HS sendiri masih sangat sulit ditemukan sehingga tidak bisa dibaca oleh generasi saat ini.

Jika tidak percaya, cobalah tanyakan pada generasi saat ini, sejak SD sampai PT apakah mereka pernah tahu dan membaca karya sastrawan Melayu yang besar tersebut? Mungkin sebagian besar tidak pernah menyantap karyanya dan hanya tahu nama Soeman Hs karena menjadi nama perpusatakaan daerah saja. Alangkan menyedihkan...

Sementara Yong Dolah, adalah sosok intelektual yang mengekspresikan kecerdasannya melalui oral (lisan) yang hanya menjadi cerita yang mengandung cemoohan. Padahal, cara Yong Dolah mengekspresikan sastranya merupakan cara dan bentuk media yang ampuh untuk zamannya.

Sangat banyak intelektual yang menggunakan cara oral dalam mencurahkan kecerdasannya saat itu. Katakanlah seperti Wak Setah, seorang perempuan Melayu yang memiliki kemampuan bertutur (bercerita) yang sangat brilian.

Sayangnya, penuturan cerita yang pernah disampaikannya tak pernah dibukukan, sehingga sulit ditemukan lagi. Padahal, mayarakat Melayu modern telah banyak yang tidak lagi mengetahui cerita daerahnya akibat arus novel modern yang tidak mencerminkan nilai Melayu yang islami.

Padahal, apalah sulitnya bagi negeri Lancang Kuning yang kaya ini untuk mengumpulkan cerita Yong Dolah dan Wak Setah untuk kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku agar bisa menjadi bacaan generasi saat ini dan akan datang.

Bukankah Bumi Lancang Kuning telah memproklamirkan diri sebagai Pusat Budaya Melayu Asia Tenggara? Bagaimana mungkin visi ini terwujud tatkala secara intern generasi negeri ini kurang untuk tidak sama sekali memahami budayanya dan kekuarangan bacaan para intelektual budaya Melayu yang pernah ada dahulu dengan kekuatan nilai religious budaya Melayu yang demikian dalam. Padahal, karya mereka memiliki keluasan makna dan dalam filosofis religiusnya.

Yong Dolah paling tidak merupakan sosok intelektual sastrawan Melayu yang pernah lahir di Bumi Lancang Kuning ini yang mengekspresikan kecerdasannya dalam bingkai sastra yang menggunakan kata hiperbola yang penuh makna.

Paling tidak, sampai saat ini belum ada yang mampu melakukan bentuk sastra hiperbola sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yong Dolah. Entahlah... Apakah masih bisa kita tertawa juga lagi ketika mendengar cerita Yong Dolah. Jika masih bisa, syukurlah. Tapi tertawa karena keasyikan menikmati kedalaman intelektualitasnya dan kepiawaiannya memainkan kata, bukan mengejeknya.

Sekali lagi, entahlah... Tapi, Yong Dolah boleh berbangga hati karena kata filosofisnya bisa membuat kita tertawa dan Wak Setah melalui celotehnya membuat ia menjadi sosok perempuan Melayu yang diperbincangkan oleh Pusdatin Puanri.

Beruntunglah Wak Setah karena Pusdatin Puanri masih memperjuangkannya, tapi tidak demikian dengan Yong Dolah yang tak ada mau memperjuangkan intelektualitasnya. Sementara masih banyak para pembual dan pencoleteh lainnya yang lahir hari ini justeru hanya mampu membuat kita menjadi geram.
bAca sElenGkapNyA!!

Puteri Kaca Mayang | Cerita Rakyat Pekanbaru

Rabu, 22 September 2010

Puteri Kaca Mayang | Cerita Rakyat PekanbaruCerita Rakyat Riau - Cerita Puteri Kaca Mayangadalah cerita Asal mula Kota Pekanbaru versicerita rakyat yang sampai saat ini di kalangan masyarakat Riau. Mari kita baca dan sima ceritanya berikut ini. Berawal dari sebuah kerajaan yang berdiri di tepi Sungai Siak bernama Gasib. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang bernama Gasib. Konon, Raja Gasib memiliki seorang putri yang cantik jelita, namanya Putri Kaca Mayang. Namun tak seorang raja atau bangsawan yang berani meminang sang Putri, karena mereka segan kepada Raja Gasib yang terkenal memiliki panglima gagah perkasa yang bernama Gimpam. Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan diri meminang sang Putri, namun pinangannya ditolak oleh Raja Gasib. Karena kecewa dan merasa terhina, Raja Aceh berniat membalas dendam. Apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Gasib? Bagaimana nasib sang Putri? Lalu, apa hubungannya cerita ini dengan asal mula Kota Pekanbaru? Ingin tahu jawabannya? Mari kita lanjutkan membaca cerita Putri Kaca Mayang ini.
bAca sElenGkapNyA!!

Hang Tuah diutus ke Majapahit


Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan terdahulu yaitu Hikayat Hang Tuah Dari Berbagai Versi. Sebenarnya kalau diceritakan semua, saya rasa buku-buku Hikayat Hang Tuah telah banyak beredar. jadi Bisa didapatkan denmgan mudah di toko-toko buku terdekat. Berikut ini cerita Hikayat Hang Tuah sewaktu di utus oleh Raja Malaka ke Majapahit. Selamat Menikmati.

Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda.

Maka Laksamana pun menjunjung duli. Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar.

Beberapa lamanya berlayar itu, maka sampailah ke Tuban. Maka Rangga dan Barit seketika pun berjalan naik ke Majapahit.

Beberapa lamanya maka sampailah ke Majapahit. Maka dipersembahkan Patih Gajah Mada kepada Batara Majapahit, “Ya,

Tuanku, utusan daripada anakanda Ratu Melaka datang bersamasama dengan Rangga dan Barit Ketika; Laksamana panglimanya.”

Setelah Sri Batara mendengar sembah Patih Gajah Mada demikian itu, maka titah Sri Batara, “Jika demikian, segeralah Patih berlengkap.”

Maka sembah Patih Gajah Mada, “Ya Tuanku, adapun patik dengar Laksamana itu terlalu sekali beraninya, tiada berlawan pada tanah Melayu itu. Jikalau sekiranya dapat patik hendak cobakan beraninya itu.”

Maka titah Sri Batara, “Mana yang berkenan pada Patih, kerjakanlah!”

Maka Patih pun menyembah lalu keluar mengerahkan segala pegawai dan priyayi akan menyambut surat itu. Setelah sudah lengkap, maka pergilah Patih dengan segala bunyi-bunyian.

Hatta maka sampailah ke Tuban. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun berlengkap memakai pakaian yang indah-indah. Maka surat dan bingkisan itu pun dinaikkan oleh Laksamana ke atas gajah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun naik kuda. Maka Rangga dan Barit Ketika pun naik kuda mengiringkan Laksmana. Maka di hadapan Laksamana orang berjalan memikul pedang berikat empat bilah berhulukan emas dan tumbak pengawinanbersampakemas empat puluh bilah dan lembing bersampakkan emas bertanam pudi yang merah empat puluh rangkap. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang terlalu ramai. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak oranglah ke Majapahit.

Hatta beberapa lamanya berjalan itu, maka sampailah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun turun dari atas kuda, berjalan di atas gajah. Maka Rangga pun berjalan serta berkata, “Mengapa maka Laksamana turun dari atas kuda itu?

Baik Laksamana naik kuda!”

Maka kata Laksamana, “Hai Rangga, adapun adat segala hulubalang Melayu itu, apabila nama tuannya dibawa pada sebuah negeri itu, maka hendaklah sangat-sangat dihormatkan dan takutkan nama tuannya itu. Jikalau sesuatu peri surat nama tuannya itu, sehingga mati sudahlah; yang memberi aib itu sekali-kali tiada ia mau, dengan karena negeri Majapahit itu negeri besar.”

Setelah Rangga mendengar kata Laksamana demikian itu, maka ia pun diam, lalu turun berjalan sama-sama dengan Laksamana.

Maka surat dan bingkisan itu pun diarak masuk ke dalam kota, terlalu ramai orang melihat terlalu penuh sesak sepanjang jalan dan pasar. Maka kata Patih Gajah Mada pada penjurit dua ratus itu, “Hai, kamu sekalian, pergilah kamu mengamuk di hadapan utusan itu, tetapi engkau mengamuk itu jangan bersungguh-sungguh, sekadar coba kamu beraninya. Jika ia lari, gulung olehmu sekali. Jika ia bertahan, kamu sekalian menyimpang, tetapi barang orang kita, mana yang terlintang bunuh olehmu sekali, supaya main kita jangan diketahui.”

Maka penjurit dua ratus itu pun menyembah, lalu pergi ke tengah pasar. Waktu itu sedang ramai orang di pasar, melihat orang mengarak surat itu. Maka penjurit itu pun berlari-lari sambil menghunus kerisnya, lalu mengamuk di tengah pasar itu, barang yang terlintang dibunuhnya. Maka orang di pasar itu gempar, berlari-lari kesana-kemari, tiada berketahuan. Maka penjurit dua ratus itu pun datanglah ke hadapan Laksamana; dan anak bayi priayi di atas kuda itu pun terkejut melihat orang mengamuk itu terlalu banyak, tiada terkembali lagi. Maka barang mana yang ditempuhnya, habis pecah. Maka segala pegawai itu pun habis lari beterjunan dari atas kudanya, lalu berlari masuk kampung orang. Maka segala orang yang memalu bunyi-bunyian itu pun terkejutlah, habis lari naik ke atas kedai, ada yang lari ke belakang Laksamana. Setelah dilihat oleh Laksamana orang gempar itu tiada berketahuan lakunya, maka segala orang yang di hadapan Laksamana itu pun habis lari. Maka prajurit yang dua ratus itu pun kelihatanlah. Dilihat orang yang mengamuk itu terlalu banyak, seperti ribut datangnya, tiada berkeputusan. Maka Laksamana pun tersenyum-senyum seraya memegang hulu keris panjangnya itu.

Maka Hang Jebar, Hang Kesturi pun tersenyum-senyum, seraya memegang hulu kerisnya, berjalan dari kiri kanan Laksamana.

Maka Rangga dan Barit Ketika pun terkejut, disangkanya orang yang mengamuk itu bersungguh-sungguh. Maka Rangga pun segera menghunus kerisnya, seraya berkata, “Hai Laksamana, ingat-ingat, karena orang yang mengamuk itu terlalu banyak.”

Maka sahut Laksamana seraya memengkis, katanya,”Cih, mengapa pula begitu, bukan orangnya yang hendak digertak-gertak itu.”

Maka Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalanlah seorang orang Melayu pun tiada yang undur dan tiada bergerak.

Maka kata Laksamana, “Hai segala tuan-tuan sekalian, seorang pun jangan kamu undur dan bergerak. Jika kamu undur, sekarang ini juga kupenggal leher kamu!”

Maka dilihat oleh Barit Ketika, orang mengamuk banyak datang seperti belalang itu, maka Barit Ketika pun segera undur ke belakang gajah itu. Maka prajurit yang dua ratus itu pun berbagi tiga, menyimpang ke kanan dan ke kiri dan ke hadapan Laksamana mengamuk itu, ke belakang Laksamana. Maka Laksamana pun berjalan juga di hadapan gajah itu. Maka prajurit itu pun berbalik pula dari belakang Laksamana. Maka Barit Ketika pun lari ke hadapan berdiri di belakang Laksamana itu. Maka, Laksamana pun tersenyum-senyum seraya berkata, “Cih, mengapa begitu, bukan orangnya yang hendak digertak gerantang itu.”

Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalan juga, dengan segala orangnya dan tiada diindahkannya orang mengamuk itu. Maka Rangga, dan Barit Ketika pun heran melihat berani Laksamana dan segala Melayu-melayu itu, setelah dilihat oleh penjurit dua ratus itu, Laksamana dan segala orangnya tiada bergerak dan tiada diindahkannya lawan itu, maka prajurit itu pun mengamuk pula ke belakang Laksamana. Seketika lagi datang pula prajurit itu mengamuk ke hadapan Laksamana, barang yang terlintang dibunuhnya dengan tempik soraknya, katanya, “Bunuhlah akan segala Melayu itu,” seraya mengusir ke sana kemari barang yang terlintang dibunuhnya. Maka prajurit dua ratus itu pun bersungguh-sungguh rupanya.

Maka, sahut Laksamana, “Jika sebanyak ini prajurit Majapahit, tiada, kuindahkan; tambahkan sebanyak ini lagi, pun tiada aku takut dan tiada aku indahkan. Jikalau luka barang seorang saja akan Melayu ini, maka negeri Majapahit ini pun habislah aku binasakan, serta Patih Gajah Mada pun aku bunuh,” serta ditendangnya bumi tiga kali. Maka bumi pun bergerak-gerak. Maka, Laksamana pun memengkis pula, katanya “Cih, tahanlah bekas tanganku baik-baik.”

Maka, prajurit itu pun sekonyong-konyong lari, tiada berketahuan perginya. Maka, surat dan bingkisan itu pun sampailah ke peseban. Maka surat itu pun disambut oleh Raden Aria, lalu dibacanya di hadapan Sri Batara. Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun naik ke peseban. Maka segala bingkisan itu pun disambut oranglah. Maka, titah Sri Batara, “Hai Laksamana, kita pun hendak mengutus ke Melaka, menyuruh menyambut anak kita Ratu Malaka, karena kita pun terlalu amat rindu dendam akan anak kita. Di dalam pada itu pun yang kita harap akan membawa anak kita kedua itu ke Majapahit ini hanyalah Laksamana.”

Maka, sembah Laksamana, “Ya Tuanku, benarlah seperti titah andika Batara itu.”

Maka Batara pun memberi persalin akan Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi dengan selengkap pakaian. Maka titah Sri Batara, “Hai Laksamana, duduklah hampir kampong Patih Gajah Mada.”

Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku, mana titah patik junjung.”

Maka Sri Batara pun berangkat masuk. Maka Patih Gajah Mada, dan Laksamana pun bermohonlah, lalu keluar kembali ke rumahnya. Maka akan Laksamana pun diberi tempat oleh Patih Gajah Mada hampir kampungnya.
bAca sElenGkapNyA!!

 
 
 
Blogger Bertuah
 
Copyright © aljufri