ff
 
Tampilkan postingan dengan label berita sungai tohow. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita sungai tohow. Tampilkan semua postingan

seluruh meranti akan terang.mei pltu 2 t akan di mulai pembangunanya

Selasa, 21 September 2010

Mei, PLTU Rp2 T Dibangun di MerantiSELATPANJANG- Kabar gembira bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya berada di pulau Tebingtinggi. Mulai Mei mendatang, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x7 Megawatt (Mw), dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp2 Triliun.Jelang pembangunan pembangkit dengan sumber batubara tersebut, Kamis (8/4), pihak PLN bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kep Meranti melakukan peninjauan lokasi tempat dibangunnya pembangkit di Desa Insit, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Rencananya, pembangkit akan dibangun di atas lahan seluas 11 hektar yang disediakan oleh Pemkab.Dari PLN, survey langsung dilakukan oleh General Manager PT PLN (Persero) Pembangkitan Regional Sumatera Chairuddin Matondang dan Manager Awaluddin, serta PLN Cabang Meranti. Sementara Pemkab Meranti dihadiri Asisten I Setdakab Fatur Rachman, Camat Tebingtinggi Barat, Kepala Desa dan lainnya. Kepada pers, GM PLN Sumatera Chairudin Matondang menyebutkan, peninjauan lokasi tersebut sebagai salah satu upaya persiapan PLN memulai pekerjaan pembangunan pembangkit. Setelah melihat lokasi, diperkirakan pada Mei mendatang pihaknya akan memulai pekerjaan pembangunan. ‘’Seharusnya pembangkit ini memang sudah dibangun tahun lalu. Namun karena ada kendala pada pendanaan, terpaksa ditunda tahun ini,’’ ujar Chairudin. Sumber pendanaan pembangunan pembangkit ini, PLN menggandeng dua bank, yakni Bank Rakyat Indonesia dan Bank Central Asia. Diperkirakan, pada 2012 mendatang, pembangunan pembangkit tuntas dilakukan dan secara otomatis pula pembangkit bisa mulai dioperasionalkan.Dari 2 x7 Mw ini, pembangkit bisa menghasilkan daya mampu sebesar 14 Mw. Inilah yang akan didistribusikan ke masyarakat, khususnya yang terjangkau dengan jaringan. ‘’Saat ini kebutuhan daya masyarakat di Pulau Tebingtinggi mencapai 6,5 Mw. Dengan tersedianya daya 14 Mw nanti, secara otomatis kebutuhan daya masyarakat terpenuhi. Bahkan bisa pula melayani pelanggan industri,’’jelas Chairuddin. Sementara untuk pulau-pulau lain di Meranti, juga akan diupayakan untuk pembangunan pembangkit tenaga diesel. Terkait akan dimulainya pekerjaan pembangunan PLTU ini, penjabat Bupati Kep Meranti Drs H Syamsuar MSi melalui Asisten I Fatur Rachman menyebutkan, pihak Pemkab dan masyarakat Kep Meranti sangat menyambut baik dan berterima kasih. DIharapkan dengan pembangunan ini akan mengatasi salah satu permasalahan infrastruktur dasar masyarakat Meranti, khususnya di Tebingtinggi, yakni menyangkut ketersediaan listrik.Pembangunan ini katanya, juga memunculkan manfaat lain bagi masyarakat Meranti, yakni terserapnya tenaga kerja lokal, mendukung tumbuh kembangnya perekonomian, tumbuhnya industri rumah tangga, industri mikro dan makro serta lainnya.
bAca sElenGkapNyA!!

HTI malapetaka bagi masyarakat Desa Sungai Tohor dan desa sekitarnya

Kami sangat menyayangkan atas keluarnya RKT HTI PT. Lestari Unggul Makmur yang ditandatangi oleh anak buah bapak. Karena dengan keluarnya rkt tersebut masyarakat ditakut-takuti oleh pihak perusahaan yang mana rkt tersebut sudah final dan tidak bisa ditinjau ulang lagi.

Apa begitu kuatnya suatu keputusan menteri? sedangkan UUD 1945 aja sudah beberapskali diamandemen, mana tinggi UU dengan suatu keputusan menteri.sehingga keputusan menteri tidak bisa ditinjau ulang lagi ?
Untuk Bapak ketahui, di Desa Sungai Tohor, Desa Lukun, Desa Nipah Sendanu, dan Desa Tanjung Sari kecamtan Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan MEranti Provinsi Riau adalah sumber penghasil sagu terbesar diprovinsi riau umumnya kabupaten kepulauan mranti khususnya bahkan nasional.

Yang mana pohon sagu/rumbia di daerah kami tidak sama dengan pohon sagu yang ada di prov. irianjaya dan kalimantan yang mana termasuk kategori hutan. Didaerah kami pohon sagu/rumbia itu ditanam dan dirawat mulai dari penanaman hingga panen.

Jadi sagu/rumbia termasuk perkebunan masyarkat selain karet, kelapa dan kopi. Dan lagi sagu itu adalah sumber kehidupan masyarakat kami semenjak krisis moneter hingga krisis global saat ini. dimana sagu basah di ekspor ke negeri tetangga malaysia sedangkan tepung sagu dibawa ke cirebon.

Jadi masyarakat desa sungai tohor dan desa sekitarnya semenjak masuknya pihak perusahaan pemegang hti di desa tersebut merasa gelisah. karena apa, hti itu dipegang selama 100 tahun. jadi jangka waktu yang begitu lama tersebut apakah pulau tebing tinggi tersebut masih ada nantinya 100 thn lagi. karena pulau kami itu bukan seperti kepulauan karimun, batam dan tanjung pinang, yang mana daratannya tanah becampur batu dan pasir.

sedangkan di pulau kami itu tanah gambut yang mana setiap tahun air laut naik menggenangi perkampungan kami.
Berdasarkan foto satelit memang hijau kelihatannya, karena didalam kebun sagu tersebut ada kayu-kayu besar sengaja di biarkan tumbuh oleh masyarkat untuk menyimpan air.

Sehingga pertumbuhan batang safu/rumbia bisa mencapai 15 meter. Tapi seandainya Bapak tidak meninjau ulang keputusan tersebut, kami takut terjadi lagi peristiwa tahun 2003 yang lalu. Dimana masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah, sehingga masyarakat membuat anarkis, dengan membakar kamp PT. PERKASA BARU yang memegang hTI sebelum PT. Lestari Unggul MAkmur.

Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kami bermohon sangat kepada bapak untuk bisa berfikir secara arif dan bijaksana dalam mengeluarkan suatu keputusan. KArena mayarakat selalu menjadi korbanya.

Karena sampai saat ini tidak tim dari DEPHUT. DIShUT provinsi riau yang turun kedesa kami untuk mengecek keloksai yang dijadikan hti tersebut.

Yang baru turun baru tim dari kabupaten kepulauan meranti yang beru dimekarkan beberapa bulan yang lalu. Sudah cukup pemimpin - pemimpin di provinsi riau yang menjadu korban pihak perusahaan. Tidak ada satupun pihak perusahaan yang terjamah oleh hukum akbat hti.

Pihak Perusahaan bebas meluluhlantakkan hutan di Riau denga di legalnya dengan keputusan menteri yang dinamakan HTI, hingga tiap tahun Provinsi Riau pengekspor asap tervesar ke negara tetangga malaysia, singapura.SEdangkan masyarakat menebang hutan untuk kehidupan ditangkap. Jadi hukum itu berlaku untuk masyarakat biasa dan tidak berlaku bagi para perusahaan pembawa bencana bagi indonesia.
bAca sElenGkapNyA!!

Penebangan Bisa Tenggelamkan Lahan Gambut Indonesia, Rusak Kebersinambungan Industri Sagu Lokal


Konsesi industri penebangan di pulau-pulau lepas pantai Sumatera mengancam untuk merusak komunitas industri yang berkesinambungan yang mungkin memegang kunci untuk melindungi lahan gambut Indonesia yang padat karbon, tapi hampir punah.

Ketiga konsesi tersebut, yang meliputi 72.280 hektar lahan gambut dan hutan tropis di Kepulauan Meranti, kepulauan di utara Semenanjung Kampar Sumatera, dimiliki oleh Riau Andalan Pulp and Paper / Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL), Lestari Unggul Makmur dan Sumatera Riang Lestari Ltd (SRL), perusahaan yang menjual bubur kalu ke APRIL. Kelompok lingkungan hidup setempat mengatakan bahwa izin untuk mengembangkan lahan, yang sebelumnya dizonakan untuk penebangan, diubah menjadi izin penanaman untuk industri (Hak Pengusahaan Hutan / HPH) tanpa publikasi yang sesuai, sebuah persyaratan di bawah Undang-Undang Perhutani Indonesia. LSM-LSM dan masyarakat telah memunculkan pertanyaan lain berkaitan dengan legalitas keluarnya izin tersebut dan mengeluh bahwa mereka tidak dimintai pendapat. Anehnya kesepakatan tersebut - ditambah dengan dampak lingkungan dan sosial seperti yang dibayangkan - memacu oposisi setempat yang kuat atas kesepakata tersebut. Bulan Desember 2009, hampir 30.000 orang dari daerah yang terkena dampaknya menandatangani petisi yang meminta pemerintah untuk mencabut izinnya. WALHI, LSM Indonesia, membantu memasukkan keluhan tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Kementerian Kehutanan. Penduduk setempat masih menunggu keputusannya.

<span> Di spanduk tertulis: "Kami seluruh masyarakat Desa Sungai Tohor dan sekitarnya menolak keberadaan HTI PT. LUM."

Pabrik sagu setempat. </span>
Sementara itu, SRL masih meneruskan proyeknya. Sebuah penyelidikan oleh WALHI di bulan Maret menukan sebuah jalah baru, kanal drainase, dan pembukaan hutan. Kunjungan selanjutnya di bulan Juli menemukan bahwa operasi ini terus berjalan, meski adanya oposisi dari masyarakat lokal.

Penduduk setempat memiliki banyak kekhawatiran atas konsesi tersebut. Proyek tersebut akan merusak lahan gambut padat karbon, memicu emisi karbon substansial, menurunkan permukaan air dan meningkatkan resiko kebakaran, menghilangkan wilayah penangkapan ikan dan perburuan serta memperburuk erosi di pantai. Namun mungkin yang paling berbahaya, persekongkolan tersebut akan merusak sumber kunci pendapatan untuk masyarakat setempat: memanen palem sagu. Masyarakat Kepulauan Meranti telah membudidayakan sagu, palem setempat, selama paling tidak ratusan tahun, membuat mereka bisa tumbuh lebih tinggi dan memiliki zat tepung yang lebih kaya kalori. Zat tepung sagu diekspor ke Jawa dan Malaysia, di mana di sana diolah menjadi tepung dan diproses menjadi makanan. Masyarakat Sungai Tohor di Pulau Tebing Tinggi saja menghasilkan sekitar 500 ton pasta sagu, bernilai sekitar USD 10.000 per bulan.

<span> Kayu-kayu sagu untuk diproses. </span>
"Ini adalah contoh yang baik dari industri berbasis masyarakat yang bersinambungan, layak dan adil," ujar Hariansyah Usman dari Walhi Riau. "Konsesi ini mengancam akan menghapus industri ini dan menunjukkan bagaimana sistem Indonesia saat ini menginjak-injak penghidupan dan hak masyarakat, iklim, hidrologi, dan keanekaragaman hayati. Ini juga memunculkan pertanyaan serius mengengai komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi dari penggundulan hutan."

Usman mengatakan bahwa alih-alih terus mendukung minat kehutanan yang kuat yang memperkaya diri mereka sendiri dengan mengorbankan masyarakat Indonesia, pemerintah Indonesia seharusnya melihat masyarakat industri sagu sebagai model untuk digunakan saat mereka bergerak menuju targetnya untuk mengurangi penggundulan hutan.

Ini salah satu jenis pembangunan rendah karbon yang seharusnya didukung oleh Norwegia dengan komitmen milyaran dolarnya pada lahan gambut dan hutan Indonesia baru-baru ini," lanjut Usman.
bAca sElenGkapNyA!!

 
 
 
Blogger Bertuah
 
Copyright © aljufri