ff
 

Jumat, 24 September 2010


Yong Dolah dari Bengkalis

Dalam cerita lisan masyarakat Melayu, terutama Bengkalis, sosok Yong Dolah selalu divisualisasikan kepada sosok pembual yang suka bercerita, tapi yang diceritakan adalah kosong belaka.

Bukan hanya bagi orang awam, akan tetapi juga sebagian intelektual yang memiliki pandangan yang sama terhadap sosok Yong Dolah. Bila hal ini terjadi, maka ada beberapa faktor kesalahan, yaitu: Pertama, bahasa yang digunakan Yong Dolah memiliki nilai filosofis yang tinggi sehingga sampai saat ini pun masih sulit dicerna dan dipahami maksudnya oleh banyak kalangan.

Akibatnya, kita masih belum mampu menterjemahkan dan memahami maksud Yong Dolah secara substansial. Hal ini berarti, intelektualitas dan kebijaksanaan Yong Dolah sangat tinggi untuk zamannya, bahkan mungkin saat ini dan perlu kajian secara mendalam.

Kedua, informasi tentang cerita Yong Dolah tidak mampu ditrasformasikan pada generasi saat ini karena tidak adanya upaya dari pemerintah daerah untuk mempublikasikan cerita filosofis Yong Dolah. Sebab, paradigma saat ini hanya lebih didominasi oleh faham materialistik (pembangunan benda nampak) dan hedonism (kenikmatan sesaat).

Sementara untuk mempublikasikan cerita Yong Dolah ditolak oleh kedua mazhab tersebut. Ketiga, kita sebenarnya adalah orang yang belum tercerahkan, sebab kehidupan selalu mentertawakan orang, padahal tanpa kita ketahui kita justru sedang menertawakan diri sendiri, bukan mentertawakan cerita Yong Dolah. Hal ini disebabkan karena kita tak mampu memahami apatahlagi membuat melebihi apa yang dilakukan oleh orang yang kita tertawakan.

Akibat kesalahan di atas, maka eksistensi Yong Dolah dengan cerita filosofisnya yang demikian tinggi menjadi hilang. Yang muncul hanya pelecehan terhadap buah intelektual zaman yang memiliki nilai demikian tinggi tersebut. Jika Minangkabau memiliki filosofi bak “menanam karambi condong,” memiliki makna yang luas.

Antara lain, mungkin kita lahir di sebuah negeri, tapi justru dihargai bukan di negeri kita lahir, tapi harum di negeri orang. Namun, anehnya tidak demikian dengan Yong Dolah. Ia tidak harum di luar daerahnya sendiri, bahkan anehnya, di tempat Yong Dolah pernah hidup pun ia tidak mendapat penghormatan yang layak sebagai sosok sastrawan yang memiliki intelektualitas tinggi.

Jika Soeman Hs termasuk sosok intelektual sastra yang mengekspresikan kecerdasannya melalui tulisan, namanya harum dan bahkan diabadikan sebagai nama perpustakaan daerah. Namu, meskipun sudah diabadikan menjadi nama perpustakaan daerah yang menjadi kebanggaan bumi Melayu, akan tetapi karya Soeman HS sendiri masih sangat sulit ditemukan sehingga tidak bisa dibaca oleh generasi saat ini.

Jika tidak percaya, cobalah tanyakan pada generasi saat ini, sejak SD sampai PT apakah mereka pernah tahu dan membaca karya sastrawan Melayu yang besar tersebut? Mungkin sebagian besar tidak pernah menyantap karyanya dan hanya tahu nama Soeman Hs karena menjadi nama perpusatakaan daerah saja. Alangkan menyedihkan...

Sementara Yong Dolah, adalah sosok intelektual yang mengekspresikan kecerdasannya melalui oral (lisan) yang hanya menjadi cerita yang mengandung cemoohan. Padahal, cara Yong Dolah mengekspresikan sastranya merupakan cara dan bentuk media yang ampuh untuk zamannya.

Sangat banyak intelektual yang menggunakan cara oral dalam mencurahkan kecerdasannya saat itu. Katakanlah seperti Wak Setah, seorang perempuan Melayu yang memiliki kemampuan bertutur (bercerita) yang sangat brilian.

Sayangnya, penuturan cerita yang pernah disampaikannya tak pernah dibukukan, sehingga sulit ditemukan lagi. Padahal, mayarakat Melayu modern telah banyak yang tidak lagi mengetahui cerita daerahnya akibat arus novel modern yang tidak mencerminkan nilai Melayu yang islami.

Padahal, apalah sulitnya bagi negeri Lancang Kuning yang kaya ini untuk mengumpulkan cerita Yong Dolah dan Wak Setah untuk kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku agar bisa menjadi bacaan generasi saat ini dan akan datang.

Bukankah Bumi Lancang Kuning telah memproklamirkan diri sebagai Pusat Budaya Melayu Asia Tenggara? Bagaimana mungkin visi ini terwujud tatkala secara intern generasi negeri ini kurang untuk tidak sama sekali memahami budayanya dan kekuarangan bacaan para intelektual budaya Melayu yang pernah ada dahulu dengan kekuatan nilai religious budaya Melayu yang demikian dalam. Padahal, karya mereka memiliki keluasan makna dan dalam filosofis religiusnya.

Yong Dolah paling tidak merupakan sosok intelektual sastrawan Melayu yang pernah lahir di Bumi Lancang Kuning ini yang mengekspresikan kecerdasannya dalam bingkai sastra yang menggunakan kata hiperbola yang penuh makna.

Paling tidak, sampai saat ini belum ada yang mampu melakukan bentuk sastra hiperbola sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yong Dolah. Entahlah... Apakah masih bisa kita tertawa juga lagi ketika mendengar cerita Yong Dolah. Jika masih bisa, syukurlah. Tapi tertawa karena keasyikan menikmati kedalaman intelektualitasnya dan kepiawaiannya memainkan kata, bukan mengejeknya.

Sekali lagi, entahlah... Tapi, Yong Dolah boleh berbangga hati karena kata filosofisnya bisa membuat kita tertawa dan Wak Setah melalui celotehnya membuat ia menjadi sosok perempuan Melayu yang diperbincangkan oleh Pusdatin Puanri.

Beruntunglah Wak Setah karena Pusdatin Puanri masih memperjuangkannya, tapi tidak demikian dengan Yong Dolah yang tak ada mau memperjuangkan intelektualitasnya. Sementara masih banyak para pembual dan pencoleteh lainnya yang lahir hari ini justeru hanya mampu membuat kita menjadi geram.

0 comments:

Posting Komentar

 
 
 
 
Copyright © aljufri